Webinar Ecosystem Restoration sebagai peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia

Hari Lingkungan Hidup Sedunia setiap tahunnya diperingati pada tanggal 5 Juni. Dalam menyambut Hari Lingkungan Hidup yang ke 47 di tahun 2021 ini, Ilmu Lingkungan Universitas Sebelas Maret ikut serta menyambutnya dengan menyelenggarakan Webinar yang berjudul Ecosystem Restoration sesuai dengan tema HLH 2021 yang telah ditetapkan. Webinar Ecosystem Restoration diselenggarakan pada hari Sabtu, 5 Juni 2021, menghadirkan pembicara yaitu Dr. Prabang Setyono, M.Si., C.EIA., Ir., IPM selaku Kaprodi S1 Ilmu Lingkungan UNS dan Ketua Ikatan Ahli Lingkungan Seluruh Indonesia, dengan mengangkat tema “Falsifikasi Manajemen Lingkungan di Era Covid 19”. Peserta webinar tersebut kurang lebih sebanyak 150 peserta yang terdiri dari mahasiswa Ilmu Lingkungan UNS dan juga peserta umum.

 

Ecosystem Restoration merupakan suatu solusi dalam mencegah, menghentikan, dan untuk dapat mengembalikan degradasi ekosistem yang sudah terjadi di seluruh dunia. Dalam mengembalikan kondisi ekosistem dan lingkungan dapat dilakukan melalui berbagai kegiatan positif dengan tetap merawat dan menjaga alam serta lingkungan. Menurut Menteri Siti Nurbaya, restorasi ekosistem dapat menjadi salah satu solusi untuk menangani krisis lingkungan saat ini dan juga dapat membantu pemulihan ekonomi dari pandemi dengan menciptakan lebih banyak lapangan kerja. Tema Restorasi Ekosistem sesuai dengan langkah tujuan Indonesia dalam pengelolaan lingkungan dan kehutanan, seperti restorasi, rehabilitasi hutan dan kawasan guna mendukung upaya mengatasi krisis perubahan iklim, serta melakukan pengelolaan terhadap konservasi dan keanekaragaman hayati secara berkelanjutan.

 

Akan tetapi, didalam proses restorasi ekosistem sendiri sering terjadi falsifikasi. Seiring dengan perkembangan zaman, permasalahan lingkungan semakin kompleks. Kita mengenal dua istilah, yakni build forward better dan build back better. Selain itu, kita mengenal juga istilah falsifikasi yang berkaitan erat dengan teori Popper, dimana sebuah  teori bisa dipatahkan dengan bukti empiris agar ilmu pengetahuan tidak hanya sekedar mitos.  Falsifikasi merupakan modifikasi sesuatu yang sudah ada baik perubahan, penambahan, pengurangan untuk mencapai tujuan atau keuntungan. Adanya falsifikasi tidak harus selalu mengarah ke hal negatif, hal tetsebut dapat merubah perlahan paradigma dari egosentris menjadi ekosentris. Menurut Cogito Ergosum, Filosofi Descrates yaitu egosentris (berpikir reaktif/induktif) ke ekosentris (berpikir reflektif/deduktif). Ekosentris berpikir dengan pola pikir nilai tambah lingkungan, pola pikir keseimbangan, pola pikir keberlanjutan, dan pola pikir memelihara dan memperbaiki. Keberlanjutan dalam membahas tiga dimensi keberlanjutan secara individual dan sinergis yaitu :

  1. Pengelolaan lingkungan, melalui minimalisasi dampak terhadap alam oleh perusahaan.
  2. Pembangunan manusia, melalui pengurangan risiko terhadap orang dan komunitas dari perusahaan dan mendukung perkembangan mereka.
  3. Efisiensi produksi, melalui peningkatan penggunaan sumber daya alam secara produktif oleh perusahaan.

Pola keberlanjutan pengelolaan sumber daya alam yang saling keterkaitan (5K) diantaranya yaitu kontinuitas dalam menjamin pemanfaatannya, kuantitas dalam menjamin ketersediaannya, serta kualitas dalam menjamin peruntukannya, yang terikat dalam kolaborasi dan keterjangkauan antara aksebilitas dan sumber daya alam oleh masyarakat. Terdapat beberapa perangkat manajemen lingkungan yaitu

  1. Tingkat Nasional/Kabupaten, terdiri dari kebijakan lingkungan, market based instrument, teknologi, PROPER, peraturan perundangan, Good Environmental Governance, dan kepedulian konsumen.
  2. Tingkat ekosistem, terdiri dari program DAS kritis, PROKASIH, Pantai dan laut lestari, keanekaragaman ekosistem, Adipura, serta langit biru.
  3. Tingkat project, terdiri dari AMDAL, ISO 14000, Eko label, Audit, Cleaner Prod, dan UKL-UPL.

Model baru dalam proses Kebijakan Lingkungan sebagai Sistem yakni saling keterkaitan antara falsifikasi lingkungan 1 (perumusan kebijakan), falsifikasi lingkungan 2 (implementasi kebijakan), dan falsifikasi lingkungan 3 (evaluasi kebijakan). Environmental policy making atau kebijakan lingkungan yang merupakan suatu komitmen organisasi atau pemerintah terhadap undang-undang, peraturan, dan mekanisme kebijakan lainnya terkait masalah lingkungan. Kriteria dalam menilai kebijakan lingkungan yaitu efisiensi, efektivitas, equity, equality, public participation, freedom, predictability, dan procedural faimess.

Herlina Noor A

Artikel yang Direkomendasikan

Follow Me!