Pengolahan Sampah Tepat Guna

Kondisi dan keadaan lingkungan yang semakin mengalami penurunan atau degradasi menuntut untuk dilakukannnya tahap konservasi. Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), konservasi merupakan pemeliharaan dan perlindungan sesuatu secara teratur untuk mencegah kerusakan dan kemusnahan dengan jalan mengawetkan, pengawetan, dan pelestarian. Tindakan konservasi menjadi salah satu solusi untuk menjaga agar kondisi alam tetap terjaga dan tetap dalam kondisi yang homeostatis. Langkah konservasi juga harus dilakukan sebagai solusi dan diimplementasikan secara nyata agar lingkungan dapat terselamatkan dari kerusakan. Salah satu fokus dan jalan yang dapat ditempuh dalam melaksanakan konservasi yatu pengolahan sampah. Sampah merupakan suatu barang atau benda yang dibuang karena tidak terpakai lagi dan juga merupakan materi buangan dari suatu proses. Permasalahan mengenai sampah menjadi salah satu permasalahan yang sangat serius. Hal tersebut dikarenakan sampah yang jumlahnya semakin meningkat seiring dengan pertambahan populasi manusia yang semakin bertambah. Ketika populasi semakin bertambah, maka kebutuhan akan semakin naik. Hal tersebutlah yang menyebabkan jumlah sampah semakin meningkat. Sampah menjadi suatu hal yang mencemari lingkungan melalui udara, air, dan tanah yang menyebabkan menurunnya kualitas lingkungan. Sampah juga menjadi suatu permasalahan yang penuh urgensi karena dapat menimbulkan permasalahan lingkungan dan kemanusiaan, bahkan hingga bencana alam. Hal tersebut menyebabkan sampah harus dikelola dengan tepat guna. Oleh karena itu, solusi dan implementasi konservasi pengolahan sampah dalam pengolahan sampah tepat guna perlu untuk dilakukan dan dikaji lebih mendalam.

Jenis Sampah

Sampah merupakan benda atau barang yang sering kali dibuang dan menimbulkan berbagai permasalahan. Sampah sendiri pada dasarnya dapat dibagi menjadi tiga jenis, yatu sampah organik, sampah anorganik, serta sampah B3 atau Bahan Berbahaya dan Beracun. Sampah organik merupaka sampah yang dapat diuraikan dalam waktu yang relatif singkat. Contoh dari sampah organik yaitu sampah makanan atau food waste, kotoran hewan, kotoran manusia, sampah tumbuhan, dan berbagai sampah makhluk hidup lainnya. Sampah organik ini cenderung dapat mengalami penguraian secara alamiah. Sedangkan sampah anorganik merupakan sampah yang tidak dapat teruraikan dengan cepat dan relatif membutuhkan waktu yang sangat lama, bahkan hingga ratusan lamanya. Contoh dari sampah anorganik dan lama waktu penguraiannya yaitu plastik (50-100 tahun), puntung rokok (10 tahun), kaleng soft drink alumunium (80-100 tahun), kardus (5 bulan), alumunium (80-100 tahun), bungkus plastik sabun cuci bubuk (50-80 tahun), kantung plastik (10-20 tahun), dan lain sebagainya. Bahkan terdapat salah satu jenis sampah anorganik yang tidak dapat diuraikan, yaitu sterofoam. Sampah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun) merupakan sampah yang mengandung bahan berbahaya dan atau beracun yang karena sifat dan kandungannya dapat merusak dan membahayakan makhluk hidup dan lingkungan. Contoh dari B3 yaitu sampah batu baterai, sampah laboratorium, sampah rumah sakit, sampah kimia dari pabrik, dan lain sebagainya. Setiap jenis sampah tersebut memiliki karakteristik masing-masing sehingga harus dikelola dengan baik dan efektif, tidak hanya berdasarkan tiga jenis sampah secara umum, namun juga berdasarkan jenis sampah secara spesifik (setiap sampah).

Dampak Sampah

Sampah yang merupakan permasalahan lingkungan global memberikan dampak lingkungan berupa permasalahan yang sangat serius jika tidak ditangani secara tepat guna. Sampah yang dibiarkan saja atau terbengkalai pada Tempat Pembuangan Akhir yang berupa open dumping dapat menyebabkan permasalahan yang krusial. Hal tersebut diakibatkan pada TPA (Tempat Pembuangan Akhir) di Indonesia yang cenderung hanya menimbun tanpa adanya pemilahan sampah lanjutan dimana pemilahan hanya dilakukan oleh pemulung. Berbagai jenis sampah berkumpul dan tertimbun menjadi satu. Sampah anorganik, sampah organik, dan sampah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun) yang tertimbun menjadi satu dapat menyebabkan permasalahan musiman (bau yang menyengat di musim penghujan dan kebakaran yang menyebabkan asap tebal ketika musim kemarau), rusaknya ekosistem, menurunnya tingkat kesehatan warga sekitar, timbulnya penyakit karena timbunan sampah, tercemarnya makhluk hidup yang ada di sekitarnya, serta ancaman bencana alam di masa depan. Bahan organik yang memiliki karakteristik membusuk dan terurai dengan cepat namun bercampur dengan sampah lain dapat menimbulkan ledakan yang dahsyat karena adanya kandungan gas metana (CH4). Bencana tersebut pernah terjadi di TPA Leuwigajah, Cimahi, Jawa Barat yang menyebabkan 2 kampung (Cilimus dan Pojok) menghilang tergulung oleh longsoran sampah dan menyebabkan 157 korban jiwa. Bencana yang diakibatkan oleh sampah tersebut terjadi pada tanggal 21 Februari 2005 dan sekarang ditetapkan sebagai Hari Peduli Sampah Nasional.

Penanganan Sampah Secara Umum

Penanganan sampah secara umum dapat dimulai dengan memilah sampah berdasarkan jenis secara umumnya saja. Pemilahan ini dapat dilakukan dengan membedakan sampah organik, sampah anorganik, dansampah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun). Langkah yang dilakukan yaitu berupa penyediaan tempat sampah tiga jenis serta penyediaan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang juga memiliki sistem pemilahan berdasarkan ketiga jenis sampah tersebut. Dengan adanya pemilahan secara umum ini, dampak dan bencana sampah dapat diminimalisir dan dapat dicegah. Sistem pemilahan secara umum tersebut sudah dilakukan di Indonesia, namun hanya sebatas penyediaan tiga tempat sampah berbeda. Langkah pada sistem pengolahan sampah di Indonesia belum mencapai pada tahap akhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

Penanganan Sampah Secara Khusus

Penanganan sampah secara khusus merupakan penanganan sampah yang benar-benar telah menerapkan prinsip zero waste. Sampah sebenarnya bukan merupakan sesuatu yang menjijikan dan sudah tidak dapat dimanfaatkan lagi. Sampah yang menjadi permasalahan lingkungan global harus diubah pengertiannya menjadi suatu barang atau benda yang terbuang atau tidak terpakai, namun tidak kotor dan masih dapat dimanfaatkan dan dikelola dengan baik. Pennaganan sampah secara khusus dilakukan dengan memilah sampah tidak hanya berdasarkan tiga jenis sampah secara umum. Sampah dipilah berdasarkan jenis secara khusus. Sampah yang dibuang berada dalam kondisi bersih untuk sampah anorganik dan sampah B3, bahkan untuk bungkus makanan disarankan untuk dibilas terlebih dahulu. Sampah organik juga memiliki penanganan tersendiri. Sampah makanan atau food waste dikelola dan disediakan tempat tersendiri, kotoran dan sisa makhluk hidup pun memiliki perlakuan yang berbeda. Semua perlakuan khusus tersebut didasarkan pada karakteristik masing-masing sampah dan berorientasi pada sampah yang sudah aman ketika mencapai lingkungan (zero waste).

 

Tujuan Pengolahan Sampah

Terdapat dua tujuan pengolahan sampah secara umum menurut wikipedia bahasa Indonesia. Tujuan pengolahan sampah yang pertama yaitu untuk mengubah sampah menjadi material yang memiliki nilai ekonomis atau pemanfaatan sampah. Tujuan yang pertama bisa dilakukan dengan mengubah sampah yang ada menjadi produk baru yang memiliki nilai tambah, sampah yang pada mulanya berupa materi yang tidak bisa dimanfaatkan, kemudian diolah dengan memberikan dan menghidupkan fungsi tersendiri yang menyebabkan sampah tersebut menjadi suatu barang yang memiliki nilai fungsi dan nilai ekonomis. Dalam perwujudan tujuan pertama ini diperlukan daya kreativitas yang tinggi untuk menciptakan sesuatu yang baru dari sesuatu yang lama dengan menghilangkan kesan tidak berguna (sampah). Sedangkan tujuan kedua yaitu utnuk mengolah smapah agar menjadi material yang tidak membahayakan bagi lingkungan hidup. Tujuan kedua ini sejalan dengan prinsip zero waste. Sampah atau limbah yang dihasilkan dari suatu proses dan sudah tidak dapat lagi dikelola menjadi sesuatu yang bernilai ekonomis, maka harus diolah sedemikian rupa agar tidak memiliki dampak yang berbahaya bagi lingkungan, Kedua tujuan dari pengolahan sampah tersebut juga sejalan dengan prinsip dari tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDG), yaitu untuk menciptakan lingkungan hidup yang berkelanjutan, memanfaatkan apa yang ada dan tersedia di alam tanpa mengabaikan kepentingan generasi yang akan datang.

Pengelolaan Sampah sebagai Pengelolaan Lingkungan Hidup

Lingkungan hidup merupakan segala tempat, daya, benda, dan materi yang ada di sekitar dan saling memengaruhi satu sama lain dalam menunjang kehidupan. Lingkungan hidup dijadikan sebagai penopang kehidupan semua makhluk hidup. Hal tersebut menyebabkan permasalahan lingkungan hidup menjadi suatu permasalahan yang sangat krusial dan berbahaya ketika tidak ditangani dengan baik. Ketika mengkaji mengenai pengelolaan lingkungan hidup, permasalahan utama yang dihadapi yaitu sampah. Sampah yang menyebabkan terjadinya degradasi lingkungan melalui pencemaran pada air, tanah, dan udara menjadi suatu fokus yang harus dikelola dengan tepat guna. Pengelolaan lingkungan hidup di Indonesia diatur dalam Undang-Undang Pengelolaan Lingkungan Hidup (UU PLH) Nomor 32 Tahun 2009. UU PLH No. 32 Tahun 2009 membawa visi besar berupa perencanaan, pemanfaatan, pengendalian, pemeliharaan, pengawasan, dan penegakan hukum yang dapat dijadikan sebagai dasar dalam pengolahan sampah untuk mencegah dan menanggulangi degradasi atau penurunan kualitas lingkungan yang ada. UU PLH No. 32 Tahun 2009 juga membawa asas tanggung jawab negara, asas keberlanjutan, serta asas manfaat yang menegaskan bahwa pengelolaan lingkungan hidup merupakan isu dan permasalahan nasional, sehingga permasalahan mengenai sampah juga merupakan tanggung jawab bersama, sinergi antara masyarakat dengan negara atau pemerintahan.

Sejarah Dunia

Sejarah dunia mengenai pengelolaan lingkungan hidup yang di dalamnya secara otomatis terdapat aspek untuk mengelola sampah dengan tepat guna diawali dengan adanya Stockholm Conference yang diadakan di Stockholm, Swedia pada tanggal 5-12 Juni 1972. Konverensi Stockholm diikuti oleh 113 Kepala Negara yang menghasilkan 26 prinsip atau asas yang berorientasi kepada tercapainya Sustainable Development. Dengan adanya Konverensi Stockholm memberikan titik balik kepada dunia mengenai pentingnya untuk mengelola lingkungan hidup dan menjaga keberlanjutan kehidupan. Titik penting lain mengenai sejarah dunia tentang pengelolaan lingkungan hidup dilanjutkan pada Neorobi Declaration pada tahun 1982 yang berisi himbauan untuk mematuhi Deklarasi Stockholm, Rio Conference pada tangga 3-14 Juni 1992 yang diselenggarakan di Rio de Jeneiro, Brazil yang mengukuhkan Sustainable Development sebagai hukum internasional, serta Johanes Berg Conference pada tahun 2002. Berbagai runtutan mengenai konferensi-konferensi dunia tentang lingkungan hidup memberikan urgensi tersendiri akan pentingnya menjaga lingkungan hidup dan keberlanjutannya.

Fakta dan Permasalahan yang Dihadapi

Fakta dan permasalahan yang dihadapi ketika melakukan pengolahan sampah dalam rangka memelihara lingkungan hidup terletak pada permasalahan sumber daya manusia yang ada. Di Indonesia yang merupakan negara berkembang (Developing Country) memiliki fakta bahwa kesadaran akan pengolahan sampah masih sangat rendah. Bahkan kesadaran untuk membuang sampah pada tempatnya masih menjadi suatu permasalahan yang dihadapi oleh bangsa Indonesia. Hal tersebut menyebabkan langkah lanjutan dalam pengolahan sampah yang berupa pemilahan sampah berdasarkan karakteristik khusus menjadi suatu hal yang akan sulit untuk dilakukan dan memerlukan waktu edukasi serta waktu tercapainya pelaksanaan yang sangat lama. Permasalahan yang dihadapi ini merupakan permasalahan yang berkaitan erat dengan pola pikir masyarakat yang ada di Indonesia. Budaya dan kebiasaan masyarakat Indonesia memerlukan pembaruan ke arah yang lebih baik melalui sistem baru yang menyadarkan masyarakat akan pentingnya pengolahan sampah secara tepat guna.

Contoh Negara Lain yang Berhasil Dalam Pengolahan Sampah

Negara-negara yang berhasil dalam melakukan pengolahan sampah merupakan negara-negara yang merupakan negara-negara maju atau Developed Countries. Contoh dari negara yang berhasil dalam melakukan pengolahan sampah yaitu Jerman, Inggris, Swiss, Selandia Baru, Jepang, Singapura, dan Korea Selatan. Salah satu negara yang memiliki sistem rinci dalam pengolahan sampahnya yaitu Korea Selatan. Korea selatan memiliki sistem pemilahan sampah yang sangat spesifik, yaitu pemisahan sampah yang menyebabkan negara tersebut memiliki tempat sampah dengan berbagai jenis (tidak hanya 3 jenis tempat sampah secara umum saja). Korea Selatan memilah sampah kadus, botol plastik, kertas, sampah makanan, sampah pakaian, sampah botol kaleng, sampah batu baterai, dan sampah popok dalam wadah yang berbeda. Korea Selatan juga memiliki kantung plastik untuk sampah yang berbeda di setiap regionalnya yang dapat dibeli di toserba terdekat dengan berbagai ukuran yang menjadi syarat pembuangan sehingga fluktuasi sampah berkala di setiap regional dapat diketahui secara sistematis. Korea Selatan juga menerapkan sistem pembuangan properti yang sudah tidak digunakan harus tercatat dalam catatan sipil setempat dan dilakukan biaya buang. Dengan adanya sistem tersebut, pengolahan sampah di Korea Selatan dapat dikatakan efektif dalam mengatasi permasalahan sampah.

 Stakeholder yang Terkait

Stakeholder yang terkait dalam pengelolaan sampah yaitu seluruh instrumen negara, dari masyarakat hingga pemerintah. Badan pemerintahan yang terkait langsung dalam pengolahan sampah yaitu Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang berwenang dalam pengolahan sampah secara langsung melalui berbagai instrumen Dinas Lingkungan Hidup yang ada. Selain itu, berbagai Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang bergerak di bidang lingkungan juga mengambil peran yang cukup besar karena menggalakkan gaya hidup peduli sampah. Namun, letak pionir utama dalam pengolahan sampah aitu pada masyarakat dan pemikirannya akan pengolahan sampah. Ketika masyarakat memiliki kesadaran tinggi maka sistem pengolahan sampah dapat terlaksana dengan baik dan efektif.

 Solusi dan Impementasi dari Langkah Konservasi Pengolahan Sampah

Solusi dan implementasi dari langkah konservasi pengolahan sampah yaitu dengan mengedukasi masyarakat secara meluas dan berkelanjutan akan pentingnya pengolahan sampah secara tepat guna (khusus). Yaitu dengan mengedukasi masyarakat umum dan menekankan edukasi berkelanjutan kepada generasi yang akan datang melalui pendidikan formal yang menekankan pentingnya pemilahan dan pengolahan sampah. Hal tersebut dapat dijadikan sebagai langkah lanjutan disamping dengan perbaikan sistem pengolahan sampah yang ada. Hal ini dikarenakan kembali pada titik permasalahan pola pikir bahwa membentuk pemikiran yang tepat pada generasi yang akan datang lebih mudah dan efektif dari pada mengubah pola pemikiran yang sudah ada.

 KESIMPULAN

Sampah merupakan suatu zat sisa yang berbahaya bagi lingkungan jika tidak dilakukan pengelolaan dengan baik. Pengolahan sampah secara tepat guna dilakukan dengan memilah sampah berdasarkan jenis spesifiknya. Upaya solusi dan implementasi konservasi pada pengolahan sampah dapat dilakukan dengan memperbaiki sistem dan membentuk edukasi akan pentingnya pengolahan sampah karena letak permasalahan sampah yaitu pada pola pikir masyarakat. Indonesia dapat memperbaiki sistem melalui perencanaan secara matang dan mendalam demi menemukan langkah sistematis dan kritis dalam mengolah sampah. Dengan adanya dan terbentuknya sistem yang matang, maka pengolahan sampah dapat dilakukan dengan baik dan tepat guna.

Indah Rosita Dewi

Artikel yang Direkomendasikan

Follow Me!