Pemanfaatan Konservasi dalam Menanggulangi Kelimpahan Air dan Mencegah Kelangkaan Air

Air adalah sumber daya utama yang dibutuhkan oleh seluruh makhluk hidup. Di bumi ini hampir 70 persen daratan yang ada di bumi di dominasi oleh air dan 2,5 persennya adalah air tawar yang dapat dikonumsi oleh makhluk hidup. Tidak semua air dapat dikonsumsi oleh makhluk hidup. Makhluk hidup hanya mengkonsumsi air bersih yang tidak terkontaminasi oleh senyawa yang dapat mencemari air. Air bersih adalah air yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Air bersih yang dikonsumsi untuk minum pertama-tama harus dimasak terlebih dahulu untuk menghilangkan kuman dan bakteri yang ada di air sehingga apabila dikonsumsi tidak menimbulkan efek samping. Air yang digunakan atau dikonsumsi sebagai air minum harus memenuhi syarat-syarat kesehatan air minum. Menurut Dirjen Cipta Karya tahun 1998 menyatakan, ada beberapa persyaratan utama yang harus dipenuhi dalam sistem penyediaan air bersih, antara lain adalah persyaratan kualitatif, kuantitatif dan kontinuitas. Persyaratan kualitatif adalah mutu atau kualitas air baku air bersih. Syarat kualitas air bersih ini tercantum dalam Peraturan Menteri Kesehatan No. 416/Menkes/PER/IX/1990 tentang persyaratan dan pengawasan kualitas. Persyaratan kuantitatif ditinjau dari banyaknya air baku yang tersedia, maksudnya adalah air baku yang dapat digunakan sesuai dengan jumlah penduduk yang ada. Persyaratan kontinuitas penyediaan air bersih sangat erat berhubungan dengan kuantitas air yang tersedia. Maksud dari kontinuitas disini adalah air baku untuk air bersih dapat diambil dengan terus menerus. Air bersih yang digunakan selain untuk minum juga digunakan untuk hal lain seperti mandi dan mencuci. Air yang digunakan untuk mandi dan mencuci tidak perlu melewati proses masak untuk digunakan.

Terdapat beberapa sumber air yang tersedia di bumi ini. Pertama, air permukaan. Air permukaan yang biasanya dijadikan menjadi sumber air baku antara lain mata air, bendungan, danau dan sungai. Kualitas yang dimiliki oleh air permukaan biasanya kurang baik karena mudah sekali tercemar oleh zat polutan yang dapat menurunkan kualitas air itu sendiri. Zat polutan adalah zat yang berbahaya bagi kesehatan. Tidak semua air permukaan tercemar oleh zat polutan misalnya, mata air. Mata air merupakan sumber air yang aman dari zat polutan karena mata air adalah sumber mata air yang muncul ke permukaaan dari bawah tanah. Dan mata air sangat cocok digunakan sebagai sumber air baku. Dari segi kuantitasnya mata air tidak menampung cukup banyak air. Jadi, apabila mata air sudah habis maka penduduk akan mencari mata air baru. Berbeda dengan bendungan, danau, dan sungai. Bendungan dan danau dapat menampung air hujan yang turun dan air hujan dapat dimanfaatkan sebagai sumber air baku bersih. Sedangkan air sungai mendapat aliran dari gunung. Tidak semua air sungai memiliki kualitas air yang bersih karena apabila dasar sungai adalah lumpur akan membuat air sungai menjadi kotor karena partikel lumpur didasar sungai akan terangkat akibat arus sungai. Dan sungai yang dasar sungainya bebatuan akan lebih bersih karena partikel batu yang besar tidak akan tercampur oleh air sungai dan tidak akan mengotori air.

Kedua, air tanah. Air tanah dibedakan menjadi dua yaitu air tanah dangkal dan air tanah dalam. Air tanah dangkal atau freatis merupakan air tanah bebas yang terdapat dalam tanah dengan kedalam muka air kurang atau sama dengan dua puluh meter. Air tanah dangkal adalah sumber air bersih yang bisa dimanfaatkan dengan membuat sumur sampai kedalam batas muka air tanah. Biasanya air tanah dangkal banyak dimanfaatkan oleh masyarakat. Yang selanjutnya ialah air tanah dalam. Air tanah dalam atau artesis adalah air yang terdapat di dalam tanah yang kedalamannya lebih dalam dari air tanah dangkal yang dibatasi dengan lapisan kedap air impermiabel. Air tanah dalam ini terletak di antara lapisan akuifer dengan lapisan btuan kedap air (akuifer terkekang). Air tanah dalam ini dapat dimanfaatkan dengan mengebor bagian impermiabel untuk mencapai air tanah dalam. Dalam sumber lain dikatakan bahwa air tanah dibedakan menjadi 5 jenis yakni, air tanah dangkal (freatis), air tanah dalam (artesis), air tanah meteroit (vados), air tanah baru (juvenil), dan air konat. Air tanah meteroit (vados) merupakan air yang berasal dari proses pretipitas (hujan) dari awan yang mengalami kondensasi yang bercampur dengan debu meteroit. Lalu air tanah baru (juvenil) berarti air tanah yang terbentuk dari dalam bumi akibat intrusi magma. Air tanah baru (juvenil) ini biasanya ditemukan dengan bentuk air panas (geyser). Yang terakhir adalah air konat. Air konat merupakan air tanah yang terjebak dalam lapisan batuan purba sehingga sering terjadi penyalinan dari fuat cepat atau yang biasa disebut dengan fosil water.

Jika dilihat dari peta Indonesia tidak perlu khawatir akan terjadinya krisis air. Karena Indonesia adalah negara kepulauan yang dikelilingi oleh perairan yang membuat Indonesia dijuluki dengan negara maritim dan 6 persen persediaan air dunia atau 21 persen persediaan air di Asia Pasifik dimiliki oleh Indonesia. Selain itu, Indonesia adalah salah satu negara dengan curah hujan yang cukup tinggi. Dikutip dari data BMKG curah hujan pada tahun 2020 mencapai 377mm/hari dimana curah hujan ini merupakan yang tertinggi sejak 154 tahun lalu. Dan di kutip dari www.goodnewsfromindonesia.id , dari data tahun 2012 Indonesia merupakan negara yang memiliki sumber daya air terbarukan terbesar ke lima di dunia dengan sumber daya air sebanyak 2.838 kilometer kubik atau sama dengan 2,838 triliun meter kubik. Dan pada data yang dilansir dari portal www.katadata.co.id , Kementrian PUPR mencatat total potensi sumber daya air di Indonesia pada tahun 2017 adalah 3,9 triliun meter kubik per tahunnya. Namun Indonesia hanya dapat memanfaatkan sekitar 691,3 miliar meter kubik. Dari data yang bersumber dari Status Lingkungan Hidup Indonesia tahun 2008, Kementrian Lingkungan Hidup menyatakan di Sumatra potensi cekungan air sebesar 110 milyar meter kubik yang merupakan potensi cekungan air terbesar di Indonesia.

Kekayaan air yang melimpah ini belum didistribusikan secara merata karena hal tersebut dikarenakan oleh variasi musim atau curah hujan yang tidak merata sepanjang tahun dan kondisi geografis yang ekstrim, seperti halnya di dataran tandus. Permintaan kebutuhan air meningkat seiring pertumbuhan dan perkembangan suatu wilayah serta penduduk. Dilansir dari data Kementrian Pekerjaan Umum, wilayah Jawa dan Bali memiliki tingkat permintaan air permukaan yang paling tinggi dibandingkan wilayah lainnya, baik untuk kebutuhan domestik maupun irigasi, serta untuk kebutuhan industri.

Dewasa ini air bersih bukan hal yang mudah untuk didapatkan. Pertambahan jumlah penduduk akan mengakibatkan meledaknya jumlah kebutuhan pangan yang juga mengakibatkan meningkatnya kebutuhan akan air bersih. Apalagi ketika datang musim kemarau yang membuat sumur-sumur penghasil air bersih mengering. Air bersih akan menjadi hal yang sulit didapatkan. Besarnya kebutuhan air bersih yang tidak diimbangi oleh penyediaan infrastruktur air bersih akan mengakibatkan kelangkaan air bersih. Dilansir dari UN-Water, sekitar 780 juta manusia yang ada di dunia tidak mempunyai akses untuk mendapatkan air bersih dan 80 juta manusia diantaranya merupakan penduduk negara Indonesia. Selain itu, kurang lebih 2,5 miliar manusia yang ada di dunia tidak bisa mengakses sanitasi yang layak.

Kebutuhan air yang terus bertambah akibat pertumbuhan penduduk khususnya di perkotaan sangat melonjak drastis. Diambil dari data standar SNI tahun 2002, kebutuhan air rumah tangga untuk penduduk perkotaan adalah 120 liter/hari/kapita, sedangkan untuk penduduk pedesaan adalah 60 liter/hari/kapita. Dan dilansir dari web Tempo.co tahun 2018, Perusahan Umum Perikanan Indonesia (Perum Perindo) cabang Jakarta menyatakan bahwa kebutuhan air bersih untuk berlayar selama 3 bulan adalah 300 ton atau 300 meter kubik setiap kapalnya. Pada saat berlabuh, kebutuhan air bersih untuk MCK hanya sekitar 5 – 6 ton atau 5 – 6 meter kubik perhari setiap kapalnya.

Dengan kekayaan air yang cukup melimpah di Indonesia khususnya, masih banyak sekali terjadi kelangkaan air bersih. Kelimpahan air pada musim hujan di suatu wilayah yang tidak dimanfaatkan dengan baik akan mengakibatkan terjadinya banjir. Tapi di sisi lain pada musim kemarau akan terjadi kekeringan. Selain itu dari berbagai sudut banyak sekali alasan mengapa air bersih yang begitu banyaknya menjadi langka. Kelangkaan air bisa dikarenakan polusi air yang meruapakan masuknya zat pencemar kedalam air yang membuat air tidak dapat di konsumsi. Pencemaran air bisa diakibatkan salah satunya karena pembuangan limbah industri dan juga sampah yang langsung di buang ke sumber air atau biasa di buang ke sungai tanpa adanya proses pengolahan sebelum pembuangan.

Faktor yang mengakibatkan kelangkaan selanjutnya adalah overpopulasi atau populasi yang berlebih di suatu wilayah yang menyebabkan meningkatnya kebutuhan air secara drastis. Seperti yang sudah disebutkan diatas bahwa perkembangan atau pertumbuhan populasi yang tidak diimbangi dengan berkembangnya infrastruktur pengelolaan air bersih akan mengakibatkan kelangkaan air bersih.

Faktor ketiga kelangkaan air adalah penggunaan air secara berlebihan. Penggunaan air secara berlebihan seperti lupa mematikan keran atau sengaja membuang-membuang air karena menganggap air bukan hal yang langka juga akan membuat kelangkaan air terjadi. Pemikiran-pemikiran yang menganggap bahwa air tidak langka harus dihilangkan sebelum kelangkaan air bersih itu terjadi. Lalu yang terakhir adalah kekeringan. Kekeringan biasanya terjadi di daerah dengan curah hujan jarang. Hal itu mengakibatkan penipisan jumlah air bersih. Perlu adanya usaha untuk mendapatkan air dari tempat yang memiliki curah hujan yang lebih tinggi. Karena faktor utama menjaga kelestarian sumber daya air adalah manusia, karena manusia memiliki aktivitas yang dapat mengubah penutupan lahan sehingga dapat merubah sistem hidrologi. Selain itu, manusia juga sebagai pengguna atau pemanfaat air sehingga dapat mempengaruhi kuantitas dan kualitas dari sumber daya air (Sitohan dkk, 2016).

Tidak hanya di Indonesia menurut Science Daily bahwa kelangkaan air sudah sangat mempengaruhi setiap benua dan sekitar 2,8 miliar orang di seluruh dunia setidaknya satu bulan dari satu tahun. Dari portal www.kontan.co.id, menurut lembaga riset World Resources Institute (WRI) tahun 2019 menyatakan bahwa sebanyak 1,8 miliar orang di 17 negara saat ini atau sekitar seperempat dari populasi dunia hidup di daerah dengan persediaan air yang tak sebanding dengan kebutuhan penduduknya. Hasil dari analisis WRI menyatakan sebanyak 12 negara yang tengah menghadapi ketidakseimbangan antara stok air dan kebutuhan penduduk akan air terdapat di wilayah Timur Tengah dan Afrika Utara. Dan yang lainnya terdapat di India, Pakistan, San Marino di Eropa, Botswana di Afrika, dan Turkmenistan di Asia Tengah. Dan saat ini India yang merupakan negara di peringkat 13 di daftar negara dengan risiko air yang sangat tinggi karena banyaknya penduduk, kini India Utara mengalami penipisan air tanah yang ekstrim. Dan menurut data yang dilansir dari PBB menyatakan bahwa kelangkaan air saat ini menjadi masalah serius di berbagai bernua karena 1,2 miliar jiwa atau sekitar 1/5 penduduk dunia tinggal di tempat daerah langka air dan jumlah ini akan masih bisa terus bertambah.

Untuk memelihara dan mejamin keberadaan air bersih diperlukan adanya konservasi. Dalam Undang-undang No. 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup disebutkan bahwa konservasi sumber daya alam adalah pengelolaan sumber daya alam yang tak terbaharui untuk menjamin pemanfaatannya secara bijaksana dan sumber daya alam yang terbaharui untuk menjamin kesinambungan ketersediannya dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas nilainya. Jadi konservasi sumber daya air merupakan usaha untuk memelihara keberadaan dan berkelanjutan keadaan, sifat, dan fungsi air agar senatiasa tersedia dalam dalam kuantitas dan kualitas yang memenuhi kebutuhan makhluk hidup untuk sekarang dan kedepannya (Sallata, 2015). Beberapa tujuan konservasi sumber daya air ini antara lain:
1. Pencegahan terhadap banjir dan kekeringan
Banjir yang terjadi pada umumnya dikarenakan kurangnya resapan air dan juga sungai yang belum bisa menampung kapasitas air hujan yang turun. Kurangnya resapan dikarenakan oleh hilangnya fungsi hutan sebagai resapan. Dengan adanya konservasi sumber daya air dengan memanfaatkan turunnya air hujan akan meminimalisir terjadi banjir dan kekeringan. Diharapkan dengan adanya konservasi sumber daya air ini kelimpahan air pada saat musim penghujan bisa dimanfaatkan untuk keperluan air pada saat musim kemarau agar tidak terjadi kekeringan. Karena menurut data dari klimatologi di Eropa menyebutkan bahwa 70% bencana alam di dunia dikarenakan atau disebabkan oleh air. Sedangkan di Asia, menurut studi Program Lingkungan PBB, setidaknya terdapat sebanyak 270 juta orang tiap tahun menjadi korban bencana banjir yang menewaskan sebanyak 124.000 orang.
2. Pencegahan terhadapa kerusakan bantaran sungai
Kerusakan bantaran sungai akan mengurangi ketersediaan sumber daya air.
3. Pencegahan erosi dan sedimentasi

Konservasi air baiknya dimulai dari diri sendiri. Menghemat air merupakan cara yang paling mudah dalam ikut serta mengkonservasi sumber daya air. Pemerintah juga mengupayakan infrastruktur yang memadai untuk sumber daya air seperti waduk, saluran irigasi, embung, dan lainnya untuk mencegah masalah yang terjadi akibat kelimpahan air seperti banjir. Seperti yang sudah disebutkan diatas dengan memanfaatkan kelimpahan air di musim penghujan akan membantu memenuhi penyediaan air saat musim kemarau dan mencegah terjadinya kekeringan. Menurut Kodoatie dan Roestam (2010), kegiatan konservasi sumber daya terdiri dari 3 model kegiatan pokok yang terdiri dari, perlindungan dan pelestarian sumber daya air, pengawetan air, dan pengelolaan kualitas dan pengendalian pencemaran air.

Perlindungan dan pelestarian sumber daya air adalah usaha melindungi sumber daya dari kerusakan baik dari tindakan manusia atau oleh alam. Beberapa upaya pelestarian sumber daya air yang dapat dilakukan salah satunya dengan pemeliharan dan mempertahankan fungsi resapan air seperti pembuatan biopori. Pelestarian hutan lindung, kawasan suaka alam, dan kawasan pelestarian alam juga sangat penting dilakukan untuk melindungi dan memelihara sumber daya air itu sendiri.

Pengawetan air atau memelihara keberadaan air, beberapa hal dapat dilakukan untuk pengelolaan kuantitas air permukaan seperti pemanenan air hujan yang dilakukan dengan pembangunan waduk atau bendungan untuk menampung air hujan serta meningkatkan kapasitas infiltrasi tanah karena kapasitas infiltrasi tanah sangat berpengaruh pada volume air yang dapat masuk ke tanah. Dalam konservasi sumber daya air dapat ditingkat dengan memperbaiki struktur tanah yaitu dengan menutup permukaan tanah dengan tanaman dan mencampurnya dengan bahan organik. Dan untuk pengelolaan kuantitas air tanah dapat dilakukan dengan pengendalian pengambilan air tanah.

Pengelolaan kualitas air dan pengendalian pencemaran air. Pengendalian kualitas air disini difungsikan untuk mempertahankan dan memulihkan kualitas air yang berada dalam sumber air. Kualitas air disini harus memenuhi standra yang disediakan beberapa faktor yang mempengaruhi kualitas air dilihat dari sifat fisiknya antara lain, kandungan sedimen, kekeruhan, temperatur, warna, bau, dan rasa. Sedangkan faktor sifat kimia yang berpengaruh dalam penggunaan air antara lain, pH, alkalinitas, dan tingkat kesadahan. Pengendalian pencemaran air secar teknis dapat dilakukan dengan dua cara yaitu preventif maupun kuarif. Tindakan preventif ditunjukkan untuk menjaga rsungai, dimana limbah yang telah dibuang kesungai telah dalam kondisi baik. Beberapa hal yang dapat dilakukan dengan tindakan preventif antara lain, pengurangan beban polutan pada limbah bisa dengan melalui penyaringan, penampungan, atau sedimentasi. Lalu bisa dengan penggunaan kembali air limbah yang telah diolah yang nantinya tidak akan mengakibatkan adanya limbah buangan atau yang biasa disebut dengan zero waste. Selain cara preventif dapat dilakukan dengan cara kuarif. Yang merupakan kemampuan air untuk mengembalikan kualitas dirinya sendiri tergantung dari besar kecilnya zat pencemar yang ada.

Malika Balgis

Artikel yang Direkomendasikan

Follow Me!