• Telp: (0271) 669376
  • s1ilmulingkungan@mipa.uns.ac.id

Monthly ArchiveJuly 2021

Prodi Ilmu Lingkungan Melakukan Pelatihan Kepenulisan

Hola Environmentalist !

Dalam rangka meningkatkan kualitas mahasiswa dan menciptakan mahasiswa yang bebas Plagiarisme, Prodi S-1 Ilmu Lingkungan kembali menggelar pelatihan kepenulisan dengan Tema “WORKSHOP TURNITIN 2021”. Kegiatan Workshop tersebut mengusung topik “Menuju Ilmu Lingkungan Tanpa Plagiarisme” yang sekaligus menjadi tujuan diadakanya acara ini. Workshop pengembangan diri ini diinisiasi oleh Himpunan Mahasiswa Program Studi Ilmu Lingkungan (HIMAPSILI UNS) bagian Sub Divisi Minat dan Bakat Akademik (Kabinet Gelora Makna) bersama dengan jajaran Dosen Ilmu Lingkungan. Kegiatan workshop turnitin tersebut diadakan pada hari Sabtu, 10 Juli 2021 dalam bentuk seminar online atau daring yang dihadiri oleh mahasiswa Program Studi Ilmu Lingkungan dari berbagai angkatan serta mahasiswa dari program studi lain yang turut menghadiri workshop tersebut. Pembicara yang mengisi workshop tersebut ialah Bpk. Hasfi Hawali A.M., S.T., M. Ling. selaku Dosen S-1 Ilmu Lingkungan yang telah berpengalaman dalam hal publikasi dan telah berulang kali mempresentasikan paper baik pada taraf nasional hingga internasional. Tak terlewat, jalanya workshop dapat berjalan dengan lancar dikarenakan dipandu dengan baik oleh Moderator dan Main Ceremony dari mahasiswa S-1 Ilmu Lingkungan yang tidak kalah keren, yaitu rekan Dinda Putri dan rekan Timothy Jeffry.

Materi yang dipaparkan oleh Pembicara berisi mengenai seluk beluk dalam plagiarisme dan praktik dalam menggunakan turnitin. Bahkan dalam workshop ini, seluruh mahasiswa Ilmu Lingkungan diberikan akses sebagai user “Student” pada turnitin sebagai alat peninjau plagiarisme dalam karya kepenulisan mahasiswa. Diharapkan dengan diberikannya akses tersebut dapat meningkatkan aktivitas publikasi oleh mahasiswa Ilmu Lingkungan tanpa terbebani keresahan plagiasi dan revisi tentunya. Adapun sub materi yang dipaparkan pembicara antara lain :

  1. Manfaat menulis artikel ilmiah
  2. Pengertian plagiarisme
  3. Macam tindakan plagiarisme
  4. Tips Menghindari Plagiarisme
  5. Aplikasi Turnitan
  6. Turorial mendaftar sebagai User Turnitin dan menggunakan turnitin secara langsung.

Berikut merupakan ringkasan yang mimin tulis berdasarkan pemaparan Pembicara :

  1. Apa itu Plagiat?

Plagiat adalah perbuatan secara sengaja atau tidak snegaja dalam memperoleh atau mencoba memperoleh kredit atau nilai untuk suatu karya ilmiah dengan mengutip sebagian atau seluruh karya dan/atau karya ilmiah pihak lain yang diakui sebagai karya ilmiahnya, tanpa menyatakan sumber secara tepat dan memadai (Dikti, 2012) – Dikutip pada Presentasi Workshop Turnitin 2021.

  1. Macam Tindakan Plagiarisme
  • Plagiarisme Total : Menjiplak sepenuhnya dan mengakui hasil sebagai karya pribadi.
  • Plagiarisme Parsial : Hasil harya sebagian diperoleh/diambil dari hasil menjiplak karya orang lain tanpa menulis sumbernya.
  • Auto-Plagiasi : Menjiplak atau mengutip karya pribadi/sendiri yang sebelumnya telah dipublikasi pada karya yang sedang dibuat tanpa menulis sumber karya tersebut (meskipun karya tersebut ditulis pribadi).
  • Plagiarisme Antarbahasa : Menjiplak atau mengutip dengan cara menerjemahkan karya tulis berbahasa asing ke dalam Bahasa Indonesia tanpa menulis sumbernya.

Tips menghindari plagiarisme

  • Mengutip : Menulis ulang tulisan baik secara ringkas maupun sama persis namun dengan mencantumkan sumber yang disitasi.
  • Memparafrasa : Membahasakan kembali karya tulis orang lain dengan susunan yang berbeda tanpa mengubah maknanya.
  • Meringkas : Menulis ulang poin penting karya orang lain secara ringkas.

Aplikasi Turnitin

Turnitin merupakan suatu aplikasi berbasis Web, yang digunakan untuk mengecek seberapa tingkat kesamaan teks, yang dibandingkan dengan teks yang ada di repository turnitin itu sendiri, serta teks yang sudah dipublish di internet secara umum. Aplikasi turnitin dapat diakses pada https://www.turnitin.com/

Setelah mengikuti workshop tersebut, ilmu yang dapat peserta dapatkan sangatlah bermanfaat, khususnya untuk mahasiswa yang bergerilya dalam mengikuti event-event maupun lomba kepenulisan. Terlebih tips yang diberikan untuk menghindari plagiasi serta pemberian akses turnitin pada seluruh mahasiswa merupakan hal yang paling menguntungkan bagi seluruh mahasiswa Ilmu Lingkungan. Selain itu, diberikan juga tips tambahan dalam menyempurnakan artikel kepenulisan dengan menggunakan software Mendeley yang merupakan perangkat lunak untuk mengintegrasikan “citation & reference manager”, sehingga karya tulis yang diciptakan oleh mahasiswa dapat bernilai lebih baik daripada sebelumnya.

Pada sesi tanya jawab, mahasiswa sangat antusias dengan beragam pertanyaan seputar penggunaan Turnitin serta pertanyaan seputar publikasi. Beragam pertanyaan tersebut dijawab dengan baik oleh ialah Bpk. Hasfi Hawali A.M., S.T., M. Ling yang setiap jawabnya selalu dibubuhi tips dan triks dalam penyelesaianya. Menurut mimin sebagai peserta Workshop, kegiatan seperti ini sangatlah bermanfaat dan wajib untuk seluruh mahasiswa ikuti. Karena isi dari workshop seperti ini jarang disampaikan kepada mahasiswa pada umumnya, baik mahasiswa baru maupun mahasiswa tua. Sehingga saat dihadapkan dengan menulis karya ilmiah, baik menulis artikel jurnal maupun tugas akhir mereka akan cenderung kebingungan dan kesulitan dalam melakukan revisi.

Nantikan terus kegiatan pengembangan diri yang diadakan oleh prodi Ilmu Lingkungan, karena setiap seminar yang diadakan selalu memberikan pengetahuan dan wawasan baru bagi masyarakat umum, khususnya bagi mahasiswa. Semoga bermanfaat 🙂

Akbar Maulana

Pengolahan Sampah Tepat Guna

Kondisi dan keadaan lingkungan yang semakin mengalami penurunan atau degradasi menuntut untuk dilakukannnya tahap konservasi. Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), konservasi merupakan pemeliharaan dan perlindungan sesuatu secara teratur untuk mencegah kerusakan dan kemusnahan dengan jalan mengawetkan, pengawetan, dan pelestarian. Tindakan konservasi menjadi salah satu solusi untuk menjaga agar kondisi alam tetap terjaga dan tetap dalam kondisi yang homeostatis. Langkah konservasi juga harus dilakukan sebagai solusi dan diimplementasikan secara nyata agar lingkungan dapat terselamatkan dari kerusakan. Salah satu fokus dan jalan yang dapat ditempuh dalam melaksanakan konservasi yatu pengolahan sampah. Sampah merupakan suatu barang atau benda yang dibuang karena tidak terpakai lagi dan juga merupakan materi buangan dari suatu proses. Permasalahan mengenai sampah menjadi salah satu permasalahan yang sangat serius. Hal tersebut dikarenakan sampah yang jumlahnya semakin meningkat seiring dengan pertambahan populasi manusia yang semakin bertambah. Ketika populasi semakin bertambah, maka kebutuhan akan semakin naik. Hal tersebutlah yang menyebabkan jumlah sampah semakin meningkat. Sampah menjadi suatu hal yang mencemari lingkungan melalui udara, air, dan tanah yang menyebabkan menurunnya kualitas lingkungan. Sampah juga menjadi suatu permasalahan yang penuh urgensi karena dapat menimbulkan permasalahan lingkungan dan kemanusiaan, bahkan hingga bencana alam. Hal tersebut menyebabkan sampah harus dikelola dengan tepat guna. Oleh karena itu, solusi dan implementasi konservasi pengolahan sampah dalam pengolahan sampah tepat guna perlu untuk dilakukan dan dikaji lebih mendalam.

Jenis Sampah

Sampah merupakan benda atau barang yang sering kali dibuang dan menimbulkan berbagai permasalahan. Sampah sendiri pada dasarnya dapat dibagi menjadi tiga jenis, yatu sampah organik, sampah anorganik, serta sampah B3 atau Bahan Berbahaya dan Beracun. Sampah organik merupaka sampah yang dapat diuraikan dalam waktu yang relatif singkat. Contoh dari sampah organik yaitu sampah makanan atau food waste, kotoran hewan, kotoran manusia, sampah tumbuhan, dan berbagai sampah makhluk hidup lainnya. Sampah organik ini cenderung dapat mengalami penguraian secara alamiah. Sedangkan sampah anorganik merupakan sampah yang tidak dapat teruraikan dengan cepat dan relatif membutuhkan waktu yang sangat lama, bahkan hingga ratusan lamanya. Contoh dari sampah anorganik dan lama waktu penguraiannya yaitu plastik (50-100 tahun), puntung rokok (10 tahun), kaleng soft drink alumunium (80-100 tahun), kardus (5 bulan), alumunium (80-100 tahun), bungkus plastik sabun cuci bubuk (50-80 tahun), kantung plastik (10-20 tahun), dan lain sebagainya. Bahkan terdapat salah satu jenis sampah anorganik yang tidak dapat diuraikan, yaitu sterofoam. Sampah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun) merupakan sampah yang mengandung bahan berbahaya dan atau beracun yang karena sifat dan kandungannya dapat merusak dan membahayakan makhluk hidup dan lingkungan. Contoh dari B3 yaitu sampah batu baterai, sampah laboratorium, sampah rumah sakit, sampah kimia dari pabrik, dan lain sebagainya. Setiap jenis sampah tersebut memiliki karakteristik masing-masing sehingga harus dikelola dengan baik dan efektif, tidak hanya berdasarkan tiga jenis sampah secara umum, namun juga berdasarkan jenis sampah secara spesifik (setiap sampah).

Dampak Sampah

Sampah yang merupakan permasalahan lingkungan global memberikan dampak lingkungan berupa permasalahan yang sangat serius jika tidak ditangani secara tepat guna. Sampah yang dibiarkan saja atau terbengkalai pada Tempat Pembuangan Akhir yang berupa open dumping dapat menyebabkan permasalahan yang krusial. Hal tersebut diakibatkan pada TPA (Tempat Pembuangan Akhir) di Indonesia yang cenderung hanya menimbun tanpa adanya pemilahan sampah lanjutan dimana pemilahan hanya dilakukan oleh pemulung. Berbagai jenis sampah berkumpul dan tertimbun menjadi satu. Sampah anorganik, sampah organik, dan sampah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun) yang tertimbun menjadi satu dapat menyebabkan permasalahan musiman (bau yang menyengat di musim penghujan dan kebakaran yang menyebabkan asap tebal ketika musim kemarau), rusaknya ekosistem, menurunnya tingkat kesehatan warga sekitar, timbulnya penyakit karena timbunan sampah, tercemarnya makhluk hidup yang ada di sekitarnya, serta ancaman bencana alam di masa depan. Bahan organik yang memiliki karakteristik membusuk dan terurai dengan cepat namun bercampur dengan sampah lain dapat menimbulkan ledakan yang dahsyat karena adanya kandungan gas metana (CH4). Bencana tersebut pernah terjadi di TPA Leuwigajah, Cimahi, Jawa Barat yang menyebabkan 2 kampung (Cilimus dan Pojok) menghilang tergulung oleh longsoran sampah dan menyebabkan 157 korban jiwa. Bencana yang diakibatkan oleh sampah tersebut terjadi pada tanggal 21 Februari 2005 dan sekarang ditetapkan sebagai Hari Peduli Sampah Nasional.

Penanganan Sampah Secara Umum

Penanganan sampah secara umum dapat dimulai dengan memilah sampah berdasarkan jenis secara umumnya saja. Pemilahan ini dapat dilakukan dengan membedakan sampah organik, sampah anorganik, dansampah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun). Langkah yang dilakukan yaitu berupa penyediaan tempat sampah tiga jenis serta penyediaan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang juga memiliki sistem pemilahan berdasarkan ketiga jenis sampah tersebut. Dengan adanya pemilahan secara umum ini, dampak dan bencana sampah dapat diminimalisir dan dapat dicegah. Sistem pemilahan secara umum tersebut sudah dilakukan di Indonesia, namun hanya sebatas penyediaan tiga tempat sampah berbeda. Langkah pada sistem pengolahan sampah di Indonesia belum mencapai pada tahap akhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

Penanganan Sampah Secara Khusus

Penanganan sampah secara khusus merupakan penanganan sampah yang benar-benar telah menerapkan prinsip zero waste. Sampah sebenarnya bukan merupakan sesuatu yang menjijikan dan sudah tidak dapat dimanfaatkan lagi. Sampah yang menjadi permasalahan lingkungan global harus diubah pengertiannya menjadi suatu barang atau benda yang terbuang atau tidak terpakai, namun tidak kotor dan masih dapat dimanfaatkan dan dikelola dengan baik. Pennaganan sampah secara khusus dilakukan dengan memilah sampah tidak hanya berdasarkan tiga jenis sampah secara umum. Sampah dipilah berdasarkan jenis secara khusus. Sampah yang dibuang berada dalam kondisi bersih untuk sampah anorganik dan sampah B3, bahkan untuk bungkus makanan disarankan untuk dibilas terlebih dahulu. Sampah organik juga memiliki penanganan tersendiri. Sampah makanan atau food waste dikelola dan disediakan tempat tersendiri, kotoran dan sisa makhluk hidup pun memiliki perlakuan yang berbeda. Semua perlakuan khusus tersebut didasarkan pada karakteristik masing-masing sampah dan berorientasi pada sampah yang sudah aman ketika mencapai lingkungan (zero waste).

 

Tujuan Pengolahan Sampah

Terdapat dua tujuan pengolahan sampah secara umum menurut wikipedia bahasa Indonesia. Tujuan pengolahan sampah yang pertama yaitu untuk mengubah sampah menjadi material yang memiliki nilai ekonomis atau pemanfaatan sampah. Tujuan yang pertama bisa dilakukan dengan mengubah sampah yang ada menjadi produk baru yang memiliki nilai tambah, sampah yang pada mulanya berupa materi yang tidak bisa dimanfaatkan, kemudian diolah dengan memberikan dan menghidupkan fungsi tersendiri yang menyebabkan sampah tersebut menjadi suatu barang yang memiliki nilai fungsi dan nilai ekonomis. Dalam perwujudan tujuan pertama ini diperlukan daya kreativitas yang tinggi untuk menciptakan sesuatu yang baru dari sesuatu yang lama dengan menghilangkan kesan tidak berguna (sampah). Sedangkan tujuan kedua yaitu utnuk mengolah smapah agar menjadi material yang tidak membahayakan bagi lingkungan hidup. Tujuan kedua ini sejalan dengan prinsip zero waste. Sampah atau limbah yang dihasilkan dari suatu proses dan sudah tidak dapat lagi dikelola menjadi sesuatu yang bernilai ekonomis, maka harus diolah sedemikian rupa agar tidak memiliki dampak yang berbahaya bagi lingkungan, Kedua tujuan dari pengolahan sampah tersebut juga sejalan dengan prinsip dari tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDG), yaitu untuk menciptakan lingkungan hidup yang berkelanjutan, memanfaatkan apa yang ada dan tersedia di alam tanpa mengabaikan kepentingan generasi yang akan datang.

Pengelolaan Sampah sebagai Pengelolaan Lingkungan Hidup

Lingkungan hidup merupakan segala tempat, daya, benda, dan materi yang ada di sekitar dan saling memengaruhi satu sama lain dalam menunjang kehidupan. Lingkungan hidup dijadikan sebagai penopang kehidupan semua makhluk hidup. Hal tersebut menyebabkan permasalahan lingkungan hidup menjadi suatu permasalahan yang sangat krusial dan berbahaya ketika tidak ditangani dengan baik. Ketika mengkaji mengenai pengelolaan lingkungan hidup, permasalahan utama yang dihadapi yaitu sampah. Sampah yang menyebabkan terjadinya degradasi lingkungan melalui pencemaran pada air, tanah, dan udara menjadi suatu fokus yang harus dikelola dengan tepat guna. Pengelolaan lingkungan hidup di Indonesia diatur dalam Undang-Undang Pengelolaan Lingkungan Hidup (UU PLH) Nomor 32 Tahun 2009. UU PLH No. 32 Tahun 2009 membawa visi besar berupa perencanaan, pemanfaatan, pengendalian, pemeliharaan, pengawasan, dan penegakan hukum yang dapat dijadikan sebagai dasar dalam pengolahan sampah untuk mencegah dan menanggulangi degradasi atau penurunan kualitas lingkungan yang ada. UU PLH No. 32 Tahun 2009 juga membawa asas tanggung jawab negara, asas keberlanjutan, serta asas manfaat yang menegaskan bahwa pengelolaan lingkungan hidup merupakan isu dan permasalahan nasional, sehingga permasalahan mengenai sampah juga merupakan tanggung jawab bersama, sinergi antara masyarakat dengan negara atau pemerintahan.

Sejarah Dunia

Sejarah dunia mengenai pengelolaan lingkungan hidup yang di dalamnya secara otomatis terdapat aspek untuk mengelola sampah dengan tepat guna diawali dengan adanya Stockholm Conference yang diadakan di Stockholm, Swedia pada tanggal 5-12 Juni 1972. Konverensi Stockholm diikuti oleh 113 Kepala Negara yang menghasilkan 26 prinsip atau asas yang berorientasi kepada tercapainya Sustainable Development. Dengan adanya Konverensi Stockholm memberikan titik balik kepada dunia mengenai pentingnya untuk mengelola lingkungan hidup dan menjaga keberlanjutan kehidupan. Titik penting lain mengenai sejarah dunia tentang pengelolaan lingkungan hidup dilanjutkan pada Neorobi Declaration pada tahun 1982 yang berisi himbauan untuk mematuhi Deklarasi Stockholm, Rio Conference pada tangga 3-14 Juni 1992 yang diselenggarakan di Rio de Jeneiro, Brazil yang mengukuhkan Sustainable Development sebagai hukum internasional, serta Johanes Berg Conference pada tahun 2002. Berbagai runtutan mengenai konferensi-konferensi dunia tentang lingkungan hidup memberikan urgensi tersendiri akan pentingnya menjaga lingkungan hidup dan keberlanjutannya.

Fakta dan Permasalahan yang Dihadapi

Fakta dan permasalahan yang dihadapi ketika melakukan pengolahan sampah dalam rangka memelihara lingkungan hidup terletak pada permasalahan sumber daya manusia yang ada. Di Indonesia yang merupakan negara berkembang (Developing Country) memiliki fakta bahwa kesadaran akan pengolahan sampah masih sangat rendah. Bahkan kesadaran untuk membuang sampah pada tempatnya masih menjadi suatu permasalahan yang dihadapi oleh bangsa Indonesia. Hal tersebut menyebabkan langkah lanjutan dalam pengolahan sampah yang berupa pemilahan sampah berdasarkan karakteristik khusus menjadi suatu hal yang akan sulit untuk dilakukan dan memerlukan waktu edukasi serta waktu tercapainya pelaksanaan yang sangat lama. Permasalahan yang dihadapi ini merupakan permasalahan yang berkaitan erat dengan pola pikir masyarakat yang ada di Indonesia. Budaya dan kebiasaan masyarakat Indonesia memerlukan pembaruan ke arah yang lebih baik melalui sistem baru yang menyadarkan masyarakat akan pentingnya pengolahan sampah secara tepat guna.

Contoh Negara Lain yang Berhasil Dalam Pengolahan Sampah

Negara-negara yang berhasil dalam melakukan pengolahan sampah merupakan negara-negara yang merupakan negara-negara maju atau Developed Countries. Contoh dari negara yang berhasil dalam melakukan pengolahan sampah yaitu Jerman, Inggris, Swiss, Selandia Baru, Jepang, Singapura, dan Korea Selatan. Salah satu negara yang memiliki sistem rinci dalam pengolahan sampahnya yaitu Korea Selatan. Korea selatan memiliki sistem pemilahan sampah yang sangat spesifik, yaitu pemisahan sampah yang menyebabkan negara tersebut memiliki tempat sampah dengan berbagai jenis (tidak hanya 3 jenis tempat sampah secara umum saja). Korea Selatan memilah sampah kadus, botol plastik, kertas, sampah makanan, sampah pakaian, sampah botol kaleng, sampah batu baterai, dan sampah popok dalam wadah yang berbeda. Korea Selatan juga memiliki kantung plastik untuk sampah yang berbeda di setiap regionalnya yang dapat dibeli di toserba terdekat dengan berbagai ukuran yang menjadi syarat pembuangan sehingga fluktuasi sampah berkala di setiap regional dapat diketahui secara sistematis. Korea Selatan juga menerapkan sistem pembuangan properti yang sudah tidak digunakan harus tercatat dalam catatan sipil setempat dan dilakukan biaya buang. Dengan adanya sistem tersebut, pengolahan sampah di Korea Selatan dapat dikatakan efektif dalam mengatasi permasalahan sampah.

 Stakeholder yang Terkait

Stakeholder yang terkait dalam pengelolaan sampah yaitu seluruh instrumen negara, dari masyarakat hingga pemerintah. Badan pemerintahan yang terkait langsung dalam pengolahan sampah yaitu Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang berwenang dalam pengolahan sampah secara langsung melalui berbagai instrumen Dinas Lingkungan Hidup yang ada. Selain itu, berbagai Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang bergerak di bidang lingkungan juga mengambil peran yang cukup besar karena menggalakkan gaya hidup peduli sampah. Namun, letak pionir utama dalam pengolahan sampah aitu pada masyarakat dan pemikirannya akan pengolahan sampah. Ketika masyarakat memiliki kesadaran tinggi maka sistem pengolahan sampah dapat terlaksana dengan baik dan efektif.

 Solusi dan Impementasi dari Langkah Konservasi Pengolahan Sampah

Solusi dan implementasi dari langkah konservasi pengolahan sampah yaitu dengan mengedukasi masyarakat secara meluas dan berkelanjutan akan pentingnya pengolahan sampah secara tepat guna (khusus). Yaitu dengan mengedukasi masyarakat umum dan menekankan edukasi berkelanjutan kepada generasi yang akan datang melalui pendidikan formal yang menekankan pentingnya pemilahan dan pengolahan sampah. Hal tersebut dapat dijadikan sebagai langkah lanjutan disamping dengan perbaikan sistem pengolahan sampah yang ada. Hal ini dikarenakan kembali pada titik permasalahan pola pikir bahwa membentuk pemikiran yang tepat pada generasi yang akan datang lebih mudah dan efektif dari pada mengubah pola pemikiran yang sudah ada.

 KESIMPULAN

Sampah merupakan suatu zat sisa yang berbahaya bagi lingkungan jika tidak dilakukan pengelolaan dengan baik. Pengolahan sampah secara tepat guna dilakukan dengan memilah sampah berdasarkan jenis spesifiknya. Upaya solusi dan implementasi konservasi pada pengolahan sampah dapat dilakukan dengan memperbaiki sistem dan membentuk edukasi akan pentingnya pengolahan sampah karena letak permasalahan sampah yaitu pada pola pikir masyarakat. Indonesia dapat memperbaiki sistem melalui perencanaan secara matang dan mendalam demi menemukan langkah sistematis dan kritis dalam mengolah sampah. Dengan adanya dan terbentuknya sistem yang matang, maka pengolahan sampah dapat dilakukan dengan baik dan tepat guna.

Indah Rosita Dewi

Ilmu Lingkungan Gelar kegiatan Pelatihan Penulisan Jurnal Ilmiah

Halo sobat Environmentalist !

Terus meningkatkan kualitas diri demi terciptanya sumber daya yang lebih baik merupakan salah satu tujuan dari pengembangan diri. Dalam usaha mewujudkan Tri Dharma Perguruan Tinggi, Prodi S-1 Ilmu Lingkungan Universitas Sebelas Maret kembali melaksanakan kegiatan pengembangan diri khususnya dalam hal kepenulisan. Kegiatan pengembangan diri ini diinisiasi oleh jajaran Dosen Ilmu Lingkungan dengan tujuan untuk meningkatkan keterampilan, pemahaman, serta kualitas dalam menyajikan sebuah karya tulis ilmiah pada lingkungan prodi, khususnya bagi mahasiswa Ilmu Lingkungan. Kegiatan pengembangan diri ini disajikan dalam bentuk seminar online atau yang biasa kita sebut dengan ‘Webinar’ pada hari Sabtu, 26 Juni 2021 dengan topik “Pelatihan Penulisan Artikel Ilmiah dan Pengelolaan Jurnal Ilmiah”. Narasumber yang dihadirkan pada seminar  tersebut adalah Prof. Dr. Ir. Budiyono, M.Si. selaku Dekan Sekolah Vokasi Universitas Diponegoro serta Dr. Prabang Setyono, S.Si., M.Si selaku Kepala Program Studi S-1 Ilmu Lingkungan sebagai moderator pada jalannya diskusi dan pemaparan pada seminar tersebut. Tak terlewat Master of Ceremony pada kegiatan seminar tersebut, yaitu Ibu Lia Kusumaningrum S.Hut., M.Sc. selaku staff pengajar yang istimewa pada Prodi S-1 Ilmu Lingkungan. Antusiasme peserta dalam mengikuti kegiatan tersebut sangatlah tinggi, dibuktikan dengan peserta webinar yang berasal dari berbagai kalangan dan jurusan, baik dari rumpun S-1 hingga S-2.

Materi yang dipaparkan oleh Prof. Dr. Budiyono berisi mengenai seluk beluk dalam kepenulisan artikel ilmiah, bahkan hal yang mendasar tak luput dari pemaparan beliau. Materi yang paparkan saat seminar antara lain :

  1. Motivasi Menulis
  2. Paradigma Menulis
  3. Penulisan artikel ilmiah yang baik dan berkualitas
  4. Pemaparan struktur ilmiah
  5. Pemaparan mengenai dasar Manajemen Jurnal Ilmiah hingga penerbitan Jurnal Ilmiah
  6. Tips dan Trik dalam kepenulisan dan publikasi.

Ilmu yang dapat dipetik setelah mengikuti seminar tersebut sangatlah banyak, khususnya dalam kepenulisan dan publikasi artikel ilmiah. Para peserta sendiri menjadi mengetahui dan tertarik pada penggunaan software Mendeley yang dipaparkan oleh Prof. Dr. Budiyono dalam mempermudah dan penyempurnaan sebuah karya tulis ilmiah. Mendeley sendiri merupakan sebuah perangkat lunak yang diciptakan dalam upaya untuk mengintegrasikan “citation & reference manager” ke dalam sebuah jejaring sosial. Kegunaan software ini secara sederhananya digunakan sebagai alat untuk menghindari plagiasi pada sitasi dan daftar pustakan saat menulis karya tulis ilmiah.

Dengan penambahan wawasan mengenai Mendeley, pengetahuan yang dapat kita terapkan pada saat kepenulisan menjadi semakin efektif dan kompleks. Tak luput dari itu, sesi tanya-jawab yang pandu oleh Dr. Prabang Setyono, S.Si., M.Si, yang merupakan sesi yang dinanti-nantikan pada jalanya seminar. Pada sesi tanya jawab, peserta webinar menanyakan beranekaragam pertanyaan, dari topik publikasi pada SINTA, publikasi litelatur review, software kepenulisan, hingga topik mengenai penerbit predator. Beragam jawaban tersebut dijawab dengan baik dan selalu dibubuhi tips dan triks dalam penyelesaianya. Sehingga peserta seminar menjadi semakin berwawasan dan tertarik untuk menciptakan karya tulis ilmiah.

Nantikan terus kegiatan pengembangan diri yang diadakan oleh prodi Ilmu Lingkungan, karena setiap seminar yang diadakan selalu memberikan pengetahuan dan wawasan baru bagi masyarakat umum, khususnya bagi mahasiswa. Semoga bermanfaat 🙂

 

Akbar Maulana